Corona dan Pengaruhnya pada Aktivitas Kepesantrenan

UJIAN DARI ALLAH

Awal Maret 2020, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, secara resmi mengumumkan kasus positif Corona Virus Disease (COVID-19) pertama di Indonesia. Heboh tentunya, seantero Indonesia ramai membicarakan virus yang dianggap membahayakan ini. Jika sebelumnya rakyat Indonesia hanya menyaksikan betapa bahayanya Corona melalui media, maka mulai hari itu mereka harus menghadapi kenyataan bahwa Corona sudah mulai menyebar dan mengancam kehidupan mereka.

Jujur saya awalnya tak terpikir bahwa Corona akan seheboh ini. Ketika awal Corona diberitakan, yang saya tahu bahwa ini adalah virus yang muncul akibat kebiasaan kurang baik dari sebagian warga Cina mengkonsumsi hewan-hewan yang tidak lazim. Prihatin iya, apalagi media memberitakannya dengan narasi yang begitu menakutkan. Orang-orang mendadak meninggal di tengah jalan, penyebaran virus yang begitu cepat dan gambaran menakutkan lainnya. Namun semua ketika itu masih sebatas ketakutan biasa.

Bahkan ketika Corona masuk ke Indonesia pun semua masih biasa saja, meskipun dalam waktu sekejap jumlah positif Corona semakin meningkat. Awalnya hanya di kota-kota besar di pulau Jawa dan kemudian menyebar pesat memasuki daerah-daerah di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Provinsi Bengkulu merupakan provinsi ke-32 dimana Corona menyebar, setelah bertahan hampir 1 bulan menjadi zona hijau. Kasus pertama diumumkan Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, setelah salah seorang warga yang berasal dari Provinsi Lampung wafat karena dinyatakan positif Corona.

Ada yang menarik dari hebohnya virus yang diumumkan menjadi pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020 ini. Sebagian orang yang jumlahnya tidak sedikit menganggap bahwa Corona ini hanya virus hasil konspirasi. Mereka mengatakan bahwa virus ini sengaja dibuat. Ada juga yang mengatakan bahwa virus ini tidak seberbahaya yang disebarkan oleh media, dan teori-teori konspirasi lainnya.

Terlepas apakah Corona ini konspirasi atau bukan dan apa pendapat saya tentangnya, bagi saya Corona sudah banyak mengubah cara hidup manusia, mempengaruhi perekonomian mereka dan banyak menimbulkan perselisihan.

Sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan agama diliburkan, kegiatan ekonomi dibatasi dan rumah ibadah menjadi sepi. Orang-orang menjadi takut bahkan parno. Takut keluar rumah, shalat berjama’ah di masjid, ke pasar dan tempat umum lainnya. Kalaupun mereka ada di tempat umum, hampir bisa dipastikan mereka mengenakan masker. Semua benar-benar berubah dalam sekejap.

Dan di saat yang sama, tidak sedikit orang yang harus menghadapi ujian berat karena pandemi ini. Ada yang harus kehilangan banyak pelanggan dari usaha yang dirintisnya, ada yang harus dirumahkan karena tempatnya bekerja mengalami kerugian sampai ada yang tidak tahu apa yang akan dimakan esok hari. Semoga Allah tabahkan hati-hati mereka dan diberikan jalan keluar atas kondisi ini. Aamiin.

Corona juga banyak menimbulkan perselisihan. Ada yang menganggap ketakutan kepada Corona secara berlebihan adalah bentuk lemahnya iman, sehingga mereka bersikukuh untuk tetap shalat di masjid. Sementara yang lain menganggap shalat di rumah lebih utama dilakukan demi menghindari mudharat.

Sementara itu, ibadah umroh secara resmi diberhentikan sementara oleh pemerintah Arab Saudi mulai 27 Februari 2020, bahkan ibadah haji tahun 1441 H dibatasi hanya untuk 1000 orang saja.

Di dunia pendidikan, Corona telah mengubah cara belajar dan mengajar dilakukan, yang mana semua dilakukan secara online. Orang-orang yang selama ini tidak begitu familiar dengan teknologi dipaksa untuk membiasakan diri berhadapan dengan aplikasi-aplikasi online.

Kami selaku pengelola salah satu pondok pesantren di kota Bengkulu juga ikut merasakan dampaknya. Dengan berat hati, pada 16 Maret 2020, kami harus meliburkan para santri. Awalnya hanya 2 pekan saja sesuai instruksi pemerintah kota Bengkulu saat itu, namun hingga tulisan ini dibuat (22 Juli 2020), kami masih harus meliburkan para santri.

Setelah 2 pekan berlalu, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pembelajaran (halaqah Al-Qur’an) secara online juga. Setelah teknis halaqah dimusyawarahkan dan diumumkan kepada para santri, akhirnya pada Senin, 30 Maret 2020 kami memulai agenda halaqah perdana menggunakan aplikasi video conference.

Halaqah Online
Suasana saat halaqah online di grup yang saya bina

Melaksanakan kegiatan halaqah secara online tentu ada sisi baik dan tidak baiknya. Ada suka dan dukanya, baik bagi kami para pengelola pesantren maupun para santri.

Sisi baiknya adalah kami menjadi lebih aman dari virus ini, karena ruang gerak dibatasi sehingga penyebarannya pun bisa diminimalisir. Selain itu, momen belajar dari rumah ini juga menjadi momen refreshing, sejenak menyegarkan pikiran dari penatnya mengajar. Saya yakin rasa penat ini ada di benak hampir semua orang yang mengajar, karena dunia mengajar adalah dunia yang menguras tenaga dan pikiran yang tentunya memerlukan waktu untuk beristirahat.

Sisi baik lainnya yang hampir dialami semua orang adalah kami punya lebih waktu untuk keluarga di rumah. Bagi sebagian orang yang selama ini disibukkan dengan berbagai agenda di luar rumah, momen ini adalah momen yang dinanti-nanti.

Di sisi lain, pembelajaran secara online menuntut untuk banyak bersabar. Masalah yang lumrah dihadapi para santri (dan hampir semua orang menggunakan aplikasi online) adalah masalah koneksi internet, terlebih bagi mereka yang tinggal di daerah pelosok. Melakukan panggilan video berjam-jam tentu memerlukan koneksi internet yang stabil. Tidak jarang kami dan para santri terkendala oleh masalah ini. Proses belajar dan mengajar menjadi sangat terganggu karena apa yang diucapkan tidak jelas. Bahkan terkadang kami terpaksa melakukan kegiatan halaqah menggunakan panggilan telepon tanpa internet.

Selain itu, kami juga punya kewajiban untuk terus mengontrol dan mengingatkan kewajiban para santri di rumah, baik kegiatan menghafal maupun ibadah mereka. Karena pondok pesantren berbeda dengan sekolah-sekolah yang notabene hanya mengontrol kegiatan belajar mereka saja. Kegiatan ibadah harian yang biasa mereka lakukan ketika berada di pesantren harus dilaporkan meskipun di rumah. Hal ini penting dilakukan agar para santri tidak sepenuhnya merasa sedang menjalani masa libur, namun tetap timbul rasa tanggungjawab terhadap kewajiban. Saya pribadi lebih suka laporan-laporan ini disampaikan secara pribadi, agar misi menjaga kontinuitas ibadah tidak merusak misi menjaga niat ibadah itu sendiri.

Dalam proses mengontrol dan mengawasi kegiatan para santri di rumah ini tentu tidak selalu berjalan mulus. Selain jarak yang memisahkan, nuansa ketika di rumah yang berbeda juga membuat kami harus berusaha lebih ekstra. Para orang tua sudah pasti ikut serta dalam mendidik proses ini, namun harus sama-sama dimaklumi bahwa nuansa belajar di rumah dan di pesantren tentu berbeda. Ada kecendrungan untuk lebih santai ketika di rumah. Dan itulah tantangannya bagi kami.

Dalam halaqah masing-masing sudah dibuat grup WhatsApp yang digunakan untuk saling berkomunikasi, mengingatkan jadwal agenda halaqah dan hal lainnya yang dianggap perlu. Terkadang kami harus men-japri beberapa santri ketika mereka lupa atau lalai akan jadwal yang telah ditetapkan. Bahkan, sesekali menghubungi orang tua mereka langsung ketika tidak ada respon sama sekali untuk memastikan alasan ketidakhadiran mereka dalam halaqah. Jujur, saya kadang merasa sungkan ketika harus menghubungi para orang tua secara langsung, namun itu perlu dilakukan karena merupakan keharusan bagi para santri untuk hadir dan kewajiban bagi kami untuk mengingatkan.

RINDU

Para awal diliburkannya sekolah-sekolah dan pesantren, tentu tidak sedikit yang merasa ”bahagia”. Bagi saya ini wajar, karena manusia memiliki kecendrungan untuk menyukai hidup yang lebih santai. Begitupun para santri, momen “libur Corona” pada awalnya begitu menyenangkan meskipun tidak bisa kemana-mana saat di rumah. Namun, pada akhirnya “libur” yang (terlalu) lama akan menciptakan rindu. Tidak sedikit santri yang menyampaikan keinginan untuk segera kembali ke pesantren. Ada yang merindukan teman-temannya, bosan di rumah karena tidak kemana-mana, bahkan karena khawatir hafalan mereka tidak bisa di-muroja’ah (diulang-ulang) dengan baik. Dan beberapa kali ada yang meluangkan waktu secara khusus hanya untuk menyampaikan perasaan jenuh di rumah dan meminta motivasi ataupun nasihat.

Corona menimbulkan banyak kemudharatan, namun di saat yang sama juga memacu banyak orang untuk memulai kembali sesuatu dengan lebih baik.

Begitulah, pasti selalu ada hikmah yang Allah berikan di setiap musibah. Terkadang kita tidak menyukai sesuatu, padahal Allah memberikan banyak kebaikan di dalamnya. Demikianlah firman Allah di surat An-Nisa’ ayat 19.

MENYIKAPI CORONA

Para ahli telah menyatakan bahwa Corona adalah virus yang berbahaya, maka kita yang tidak berkompeten dalam bidang tersebut tentu tidak berhak membantah. Mengikuti anjuran pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan adalah baik. Bukankah apa yang mereka anjurkan sudah lama dianjurkan oleh Allah berabad-abad yang lalu?

Namun virus tipu daya tentu lebih berbahaya dan harus dikenali…

Semoga Allah segera mengakhiri tipu daya musuh-musuh Islam dan memberikan kesadaran kepada umat akan bahayanya… Allahumma aamiin…

Tinggalkan komentar