Hijrah dan Dakwah: Pengalaman dan Pengamalan

KETIKA ALLAH SUDAH BERKENDAK

Tepat 8 tahun yang lalu, 2 Juli 2012, saya memulai sebuah perjalanan hijrah yang kelak akan membawa kepada sebuah perubahan besar dalam hidup saya. Di tanggal tersebut saya bertolak meninggalkan kota kelahiran saya, Bengkulu, menuju salah satu kota besar di pulau Jawa, tepatnya ke kota Depok untuk belajar Al-Qur’an.

Tahun 2011 saya lulus dari SMA Negeri 8 Kota Bengkulu, sekolah yang jaraknya hanya sekitar 200 m dari rumah saya di kelurahan Pematang Gubernur. Sekolah yang saat ini sudah jauh berkembang. Beberapa kali saat saya menemani santri Pesantren Qur’an Al-Fida Bengkulu mengikuti lomba di salah satu universitas di Bengkulu, saya mendapati sekolah saya lolos seleksi lomba-lomba bergengsi, bersanding dengan sekolah-sekolah yang sudah lama dikenal sebagai sekolah favorit di Bengkulu.

Dulu saya ingin sekali kuliah setelah lulus SMA. Namun nasib berkata lain, kondisi perekonomian orang tua tidak memungkinkan saya untuk kuliah. Akhirnya setelah lulus SMA saya isi waktu kosong dengan mengajar privat Matematika dan Bahasa Inggris, 2 mata pelajaran yang paling saya sukai semenjak SMP. Dulu saya tidak pernah mendapatkan ranking 3 besar, karena nilai-nilai saya berat sebelah. Dalam pelajaran yang saya sukai nilainya sangat tinggi, adapun pada pelajaran yang tidak saya sukai seperti Biologi dan Bahasa Arab maka nilai saya terjun bebas.

Setelah beberapa waktu mengajar privat, entah apa yang ada di benak saya ketika itu, saya memutuskan untuk menjadi marbot masjid dekat rumah. Ada 2 masjid yang saya pernah singgahi yaitu Masjid Al-Barakah dan Masjid Al-Jihad, yang keduanya berada tidak jauh dari rumah. Di sini pun saya tidak lama, hanya 1 bulan di masing-masing masjid.

Saya menjadi marbot di masjid pertama karena ikut salah seorang teman yang sudah lebih dulu berada di sana. Kemudian saya memutuskan untuk berpindah ke masjid kedua, Masjid Al-Jihad. Di sinilah saya mengenal Pak Kohaning, bendahara Yayasan Al-Fida Bengkulu hingga saat ini. Karena rumah beliau tidak jauh dari masjid ini, maka beliau biasanya shalat 5 waktu di sini. Selama 1 bulan berada di masjid ini banyak hal yang saya alami. Saya diajak mengaji mingguan, sesuatu yang ketika itu belum saya pahami apa maksudnya.

Suatu hari beliau menawari saya untuk menghafal Al-Qur’an di sebuah pondok tahfizh di Depok. Ketika itu belum ada lembaga yang secara khusus menawarkan program menghafal Al-Qur’an secara intensif di Bengkulu. Saat itu juga sebenarnya saya belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Bahkan saya ingat ketika mengaji bersama, saya membaca Al-Qur’an dengan sangat terbata-bata dan melafazkan huruf-huruf yang mirip dengan pegucapan yang sama persis, tidak ada bedanya.

Sebenarnya tawaran ini pernah disampaikan oleh guru Bahasa Inggris saya ketika SMA, Mom Nety Dahniar nama beliau. Sekarang beliau sudah pindah mengajar ke SMP IT IQRO’ kota Bengkulu, sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Al-Fida.

Ketika itu saya tidak begitu berminat, mungkin karena keinginan saya untuk kuliah ke kampus umum begitu kuat. Bahkan saya sebenarnya sudah mendaftar di salah satu kampus di Bengkulu dan diterima di Jurusan Pertanian, meskipun saya sebenarnya berminat untuk kuliah jurusan Bahasa Inggris atau TIK. Pikir saya ketika itu adalah yang penting kuliah, bagaimanapun caranya.

Bukti pendaftaran kuliah ketika lulus SMA

Baru kemudian ketika saya menyadari keadaan dan ditambah tawaran itu diperkuat oleh Pak Kohaning, saya memutuskan untuk mengambil tawaran ini. Lalu sampaikan keinginan ini kepada keluarga. Apakah mereka menerima?

Ternyata tidak sepenuhnya. Mereka khawatir dengan saya karena ketika itu saya harus berangkat sendiri dari Bengkulu menuju Depok menggunakan pesawat. Apalagi mereka belum begitu mengenal baik siapa yang menawari saya untuk menghafal Al-Qur’an. Kakak saya juga sempat melarang, beliau sempat berkata: “Jika mereka memang berniat baik maka seharusnya mereka mengantarkanmu sampai ke tujuan, tidak menyuruhmu berangkat sendiri.”

Saat itu saya spontan menjawab,

“Tujuan saya ini baik. Seandainya tujuan saya tidak baik, maka sedekat apapun tujuan saya maka Allah bisa saja mencelakakan saya. Begitupun sebaliknya, karena tujuan saya ini baik maka saya yakin Allah akan menjaga saya sampai tujuan.

Akhirnya mereka pun ridha saya berangkat sendiri menggunakan pesawat, bahkan ketika itu keluarga sempat mengadakan acara “dua”, yaitu acara sederhana yang bertujuan untuk mendoakan keselamatan bagi saya di perjalanan dan selama berada di perantauan.

JALAN HIJRAH TAK SELALU MULUS

Tiket pesawat pun dibeli, 50% biaya keberangkatan kami tanggung sendiri. Tepat tanggal 2 Juli 2012 saya berangkat, padahal mahasiswa baru di kampus yang saya pilih tadi mengharuskan mahasiswa hadir tanggal 7 Juli 2012. Saya tinggalkan demi sebuah tekat kuat belajar Al-Qur’an.

Saat itu saya terbang menggunakan pesawat Batavia Air, sebuah maskapai penerbangan lama yang saat ini sudah tidak beroperasi lagi. Tiket pesawat pertama yang saya naiki ini pun masih tersimpan di rumah.

Tiket pesawat pertama yang saya naiki

Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta saya sudah ditunggu oleh Mas Purwanto, teman dari Ustadz Fadli Afriansyah, Lc., M.Pd.. Ustadz Fadli inilah salah satu yang banyak berperan dalam proses hijrah saya.

Sesampainya di kota Depok, tepatnya di Depok Timur, saya diinapkan di sebuah rumah. Di sini sudah ada Mas Evan. Seorang pemuda yang juga berasal dari Bengkulu. Beliau datang ke Depok juga dalam rangka belajar Al-Qur’an. Kami tinggal bersama di rumah tersebut beberapa waktu.

Ternyata rumah tahfizh yang dimaksud Pak Kohaning tadi adalah rumah tahfizh yang salah satu pengasuhnya adalah Ustadz Fadli. Namun entah mengapa, ternyata rumah tahfizh tersebut tidak jadi berdiri atau berhenti beroperasi. Saya kurang tahu apa yang terjadi dan apa alasannya. Yang jelas saya sudah sampai di lokasi dan saya tidak jadi belajar di tempat yang ditentukan sebelumnya.

Kebingungan pun melanda. Apa saya pulang saja? Atau mencari tempat lain? Ketika itu saya tidak berani mengambil tindakan, saya hanya mengikuti arahan dari Ustadz Fadli.

Beberapa hari tidak ada kabar, sedangkan saya diinapkan di rumah tadi hanya sementara. Dalam beberapa hari penantian terhadap kepastian ini saya diminta untuk tilawah Al-Qur’an sebanyak 5 juz setiap hari sebagai persiapan dalam menghafal Al-Qur’an.

Saya bingung, bagaimana membaca 5 juz dalam sehari sedangkan bacaan saya ketika itu masih jauh dari bacaan standar? Namun saya tetap berusaha. Apa yang sudah saya pelajari saya praktekkan semaksimal mungkin. Dan alhamdulillah, tilawah 5 juz ini sangat membantu. Setidaknya saya terbiasa mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Arab.

Selang beberapa hari kemudian saya mendapatkan titik terang terkait keberlanjutan saya di sini. Saya akhirnya pindah ke salah satu rumah di kompleks perumahan Griya Tugu Asri (GTA), Cimanggis, Depok. Di sini saya pun menumpang, karena ada informasi bahwa di dalam kompleks ini akan didirikan sebuah rumah tahfizh yang ketika itu bernama Ma’had Darussalaam.

Rumah yang saya tempati ini juga dipakai sebagai tempat belajar bagi santri-santri Kuttab Al-Fatih, sebuah sekolah dengan konsep pendidikan karakter Islam yang mengedepankan akhlak serta tentunya keilmuan. Konsep ini dicetuskan oleh seorang sejarahwan Islam ternama di Indonesia, Ustadz Budi Ashari, Lc.. Saya bisa tinggal di sini karena Ustadz Fadli ketika itu adalah salah satu pengajar di Kuttab ini.

Selama 4 bulan berada di sini, saya mulai belajar tahsin Al-Qur’an secara lebih intensif dari sebelumnya bersama Ustadz Fadli. Dan alhamdulillah saya bisa membaca Al-Qur’an dengan cukup baik.

NIKMAT YANG AMAT BESAR: BERTEMU ORANG-ORANG YANG LUAR BIASA

Bulan November 2012 saya mulai belajar di Ma’had Darussalam. Ma’had ini sangat sederhana, hanya sebuah bangunan kecil 2 tingkat dengan halaman yang tidak begitu luas. Lantai dasar adalah aula kosong untuk belajar, dapur dan toilet. Lantai dasar ini sengaja didesain tanpa dinding di bagian depan dan belakang, jadi ketika masuk kita dapat langsung melihat suasana di dalam. Adapun lantai atas adalah kamar tidur dengan balkon yang juga tidak begitu besar. Sampai saat ini belum banyak perubahan fisik bangunan asrama, namun saya katakan di sinilah lahir para guru Qur’an yang hebat, meskipun saya tidaklah termasuk di antaranya. 

Kegiatan belajar Al-Qur’an dilakukan di masjid kompleks perumahan GTA yang jaraknya sekitar 150 m dari asrama. Ma’had Darussalam ketika itu baru berdiri dan kami adalah santri angkatan pertama.

Tampak tembok pagar dari luar. Kini Ma’had Darussalam berubah nama menjadi Pesantren Qur’an Mahasiswa Darussalam
Asrama tampak dari luar pagar
Masjid GTA sebelum direnovasi

Ma’had ini dipimpin oleh seorang ustadz muda, Ustadz Zamzami Hertyasning, Lc. yang berasal dari kota Solo. Dulunya beliau diterima sebagai mahasiswa di IPB, namun kemudian takdir membawa beliau menjadi lulusan LIPIA Jakarta pada tahun 2009, sebuah universitas ternama di Indonesia yang merupakan cabang dari Universitas Muhammad Imam bin Sa’ud, Riyadh, Arab Saudi. Beberapa alumninya ada yang menjadi kepala daerah seperti Ustadz Ahmad Heryawan, mantan Gubernur Jawa Barat 2 periode selama 2008-2018 dan juga ada beberapa alumni yang menempati posisi-posisi penting dalam pemerintahan.

Tidak lama kemudian beliau diberikan kesempatan oleh Allah menikmati keberkahan menuntut ilmu di Bumi Syam dengan melanjutkan studi mulazamah ke Suriah hingga pertengahan tahun 2011. Di sana beliau banyak mengikuti kajian-kajian di berbagai tempat di Damaskus, terutama kajian Syaikh Sa’id Ramadhan Al-Buthi rahimahullah. Selain itu beliau juga berkesempatan mendapatkan sanad qiro’ah riwayat Hafsh ‘an ‘Ashim dari 3 guru sekaligus, salah satunya yaitu Syaikh Dr. Mahir Hasan Al-Munajjid hafizhahullah. Urutan sanad Ustadz Zamzami adalah ke-31. Urutan sanad ini termasuk tinggi, maka tidak heran jika urusan tahsin sangat beliau prioritaskan.

Selain Ustadz Zamzami, ada juga Ustadz Iwan Setiawan, Lc.. Beliau juga alumni LIPIA Jakarta. Jika Ustadz Zamzami fokus pada pengajaran Al-Qur’an, maka Ustadz Iwan fokus pada pengajaran ilmu-ilmu pendukung dalam belajar Al-Qur’an seperti Bahasa Arab, Fikh dan Sirah. Ustadz Iwan inilah yang membuat saya menyukai Bahasa Arab hingga akhirnya saya juga berkesempatan untuk kuliah di LIPIA Jakarta jurusan Idad Lughawi selama 2 tahun. Saya ingat ketika SMA dulu, nilai Bahasa Arab saya di bawah nilai teman saya yang beragama Nasrani. Itu karena begitu tidak sukanya saya dengan Bahasa Arab.

Bagaimana Ustadz Iwan bisa mengubah mindset saya? Setelah saya pelajari ternyata ada 3 faktor utama, yaitu metode pengajaran yang efektif, muatan pembelajaran yang berbobot dan bimbingan yang intensif. Ketiganya saling berhubungan dan wajib dilaksanakan secara bersamaan jika ingin hasil yang efektif.

Jujur saya heran, ketika baru belajar Bahasa Arab dengan Ustadz Iwan ini saya langsung dijejali dengan kitab-kitab berbahasa Arab. Buku sirah yang dibahas pun menggunakan Bahasa Arab “gundul”! Diberi harakat saja saya tidak tahu artinya, apalagi Arab “gundul”. Namun ternyata ini membuat kami terbiasa. Terbiasa untuk memahami makna kata per kata sembari membedah kata-kata tersebut menggunakan ilmu Nahwu dan Sharf.

Salah satu materi pembelajaran Bahasa Arab di Ma’had Darussalam

Sekarang barulah saya mengerti. Sebenarnya tidak begitu masalah menjejali seorang pemula dengan materi yang terasa akan memberatkan mereka. Berat itu pasti, hanya saja itu akan terasa di awal saja jika kita memberikan bimbingan yang intensif dan terarah.  

IKHLAS DAN SABAR

Program Ma’had Darussalam ini ditempuh selama 2 tahun seperti kebanyakan lembaga tahfizh di Indonesia yang menargetkan lulusan SMA.

Bulan November 2012 kami memulai pembelajaran. Namun ternyata tidak langsung menghafal Al-Qur’an. Kami diwajibkan mengikuti program tahsin. Berapa lama kah? Tergantung. Tidak ada ketentuan 1 bulan, 3 bulan atau 6 bulan. Semua tergantung oleh usaha dan keseriusan masing-masing. Namun tentunya setelah kami diberikan materi yang maksimal.

Ketika itu kami berjumlah 6 orang. Saya sendiri, akh Masyhadi, akh Tian, akh Riyadh, akh Sugi dan akh Luthfi. Semua sekarang sudah menjadi guru-guru Qur’an yang hebat. Bahkan akh Masyhadi sekarang sudah menggantikan Ustadz Zamzami memimpin Ma’had Darussalam.

Kebetulan waktu itu saya menghabiskan waktu 11 bulan untuk tahsin Al-Fatihah dan juz 30 saja. Bahkan khusus tahsin Al-Fatihah menghabiskan waktu 3 bulan. Dalam satu kali pertemuan kami hanya mentahsinkan 1 hingga 2 surat saja, itupun biasanya diulang lagi pada pertemuan berikutnya sampai dianggap cukup. Tidak ada beban menghafal selama belum dinyatakan lolos tahsin. Meskipun dalam proses tahsin saya sempat ”mencuri-curi” waktu menghafal juz 30, sehingga ketika tahsin saya tidak lagi melihat mushaf.

Ternyata menghafal Al-Qur’an dengan kondisi bacaan yang belum standar itu sulit. Saya ingat dulu ketika masa tahsin saya hanya bisa menghafal 1 hingga 2 baris saja dalam sehari. Itupun saya belum tahu apakah yang saya hafal ini sudah dianggap benar atau belum. Dan ternyata banyak sekali yang harus diperbaiki. Bukan hafalan yang dikoreksi, namun huruf-huruf yang diucapkan ternyata belum sesuai.

Suasana talaqqi bersama ustadz Zamzami

Ustadz Zamzami tidak selalu hadir saat halaqah, terkadang beliau pergi untuk sebuah urusan. Kadang hanya beberapa hari saja, namun pernah juga 1 pekan beliau tidak bisa hadir.

Entah mengapa selama beliau pergi kami tetap bersemangat belajar tahsin, baik kepada teman yang sudah lebih mahir maupun berlatih sendiri saat berjalan dan selepas shalat. Barangkali karena penekanan urgensi tahsin dari beliau inilah yang mengubah mindset kami, atau karena pengaruh keshalehan beliau yang menjaga kami tetap semangat belajar ketika ada dan tidak adanya beliau. Beliau pernah bercerita bahwa suatu saat dalam proses menyetorkan hafalan bersanad, syaikh menangis tersedu-sedu mendengarkannya. Bahkan ketika beliau tidak ada, sang syaikh selalu menanyakan kemana beliau. Entah, ketika teringat sosok ustadz Zamzami selalu rasanya teringat Allah.

Kami menjadi sadar bahwa belajar itu harus dari kesadaran diri sendiri. Tidak jarang beliau mengungkap rahasia-rahasia Al-Qur’an yang membuat kami tercengang yang kemudian menumbuhkan iman di dalam hati.

Pernah beliau berkata kepada kami para santri:

“Untuk apa kalian datang jauh-jauh ke sini jika kalian tidak serius belajar? Saya tidak akan menerapkan sistem reward dan ‘iqab, memberikan hadiah jika kalian bersemangat atau memberikan hukuman jika lalai.”

Saya paham ucapan tersebut tidak dalam arti sebenarnya. Bukan berarti tidak ada apresiasi ataupun hukuman. Namun beliau mengajak berpikir menggunakan akal, karena usia kami adalah usia yang sudah seharusnya diajak berpikir dengan akal.

____________________________

Setelah hampir 1 tahun saya belajar tahsin, barulah saya diizinkan untuk menghafal. Saya mulai menghafal dari surat Al-Baqarah. Ternyata menghafal setelah belajar tahsin secara intensif itu terasa nikmat. Kemampuan Bahasa Arab saya semakin baik. Mengartikan Al-Qur’an per kata ternyata sangat membantu dalam proses menghafal dan juga mentadabburi maknanya.

Hari demi hari porsi hafalan yang bisa saya dapatkan semakin banyak. Jika di awal hanya mampu menghafal 1 hingga 2 baris, maka di hari-hari berikutnya menjadi 1 hingga halaman bahkan 1 hingga 2 lembar. Tentunya dengan tetap menjaga bacaan agar sesuai dengan standar minimal. Tidak ada lagi lahn jali (kesalahan besar)yang ada hanya lahn khofi (kesalahan kecil) yang itu bisa diperbaiki sembari menghafal.

Pernah suatu ketika saya menyetorkan hafalan juz 3 tepat di halaman 42 ayat 256. Saya sudah hafal 1 halaman tersebut, namun saya keliru dalam melafazkan kata “الغيّ”. Saya diminta untuk mengucapkannya dengan benar, namun saya tidak kunjung bisa hingga memakan waktu tahsin teman-teman saya yang lain. Akhirnya saya pun diminta mundur, padahal hanya tinggal beberapa kata lagi saya selesai membaca 1 halaman.

Hal ini barangkali terkesan berlebihan bagi sebagian orang, namun bagi saya ini justru membangun mindset yang kuat bahwa begitulah seharusnya membaca Al-Qur’an. Saya menjadi sadar bahwa membaca Al-Qur’an harus dengan cara yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Bukankah Allah berfirman di banyak tempat di Al-Qur’an menekankan pentingnya membaca Al-Qur’an dengan baik? Belum lagi hadist-hadist yang menjelaskan keutamaan orang yang mahir membaca Al-Qur’an.

Dalam waktu 1 tahun saya hanya bisa menghafal 10 juz saja. Juga sempat 1 kali tasmi’ (memperdengarkan) hafalan 5 juz dalam 1 waktu dari jam 7.00 hingga waktu Zhuhur. Ini adalah momen yang paling indah bagi saya selama menghafal Al-Qur’an, ketika saya bisa membacanya dengan tartil tanpa melihat mushaf.

Tentu banyak sekali pengalaman spiritual yang kami alami yang mana pengalaman ini menambah semangat belajar Al-Qur’an. Pernah suatu ketika di waktu sahur, kami berbincang bersama mengenai sesuatu. Dan pada pagi harinya ada seseorang yang mengantarkan kepada kami sesuatu yang kami bicarakan itu.

Ya Rabb, padahal kami tidak meminta, kami hanya membicarakannya.

Tentu terlalu kecil jika ini dijadikan tujuan untuk belajar Al-Qur’an. Ini hanya sepenggal kisah yang menggambarkan betapa Allah tidak menyia-nyiakan mereka yang berjuang di jalan-Nya.

PENGALAMAN ITU PENYEMANGAT, SEDANGKAN PENGAMALAN ITU TUJUAN

Selain pengalaman belajar Al-Qur’an di sini, pengalaman tarbiyah pun tak kalah menakjubkan. Mereka mendakwahi tanpa mendakwa, mengajak tidak sambil mengejek, mendidik tapi tidak mendadak, memberikan pelajaran kepada seseorang atas kesalahannya tanpa mempermalukannya di hadapan orang lain.

Pernah suatu ketika saya masuk masjid hendak menuju tempat wudhu dengan sarung yang masih melingkar di leher, namun ternyata itu dilihat oleh Ustadz Zamzami.

Selang beberapa hari kemudian ketika saya datang ke rumah yang ditempati beliau, saya diajak bicara 4 mata. Saya pun bingung. Ternyata beliau hendak menasihati saya tentang kesalahan yang saya lakukan waktu itu sambil beliau membacakan ayat:

 يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ – ٣١

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)

Hingga saat ini sudah banyak model tarbiyah yang saya rasakan dan semuanya baik. Tidak etis rasanya menjawab mana yang paling baik, yang penting adalah mengambil kebaikan dari model-model tarbiyah tersebut dan memaklumi kekurangan-kekurangan yang masih ada sembari berusaha melakukan perbaikan sesuai batas kemampuan. Toh, ketika saya menerapkan cara yang saya anggap paling baik pun tidak ada jaminan memberikan hasil yang baik pula. 

Prinsip inilah yang saya pegang hingga saat ini. Bahwa kebaikan umat itu menyebar, tidak berkumpul pada satu golongan atau kelompok saja. 

Perjalanan hijrah saya tidak sampai di sini, banyak sekali orang yang berperan dalam mengubah pribadi saya menjadi lebih baik. Bagian kisah ini sengaja diangkat secara khusus karena inilah titik tolak perubahan besar dalam hidup saya.

Namun…

Seseorang bisa saja memiliki pengalaman-pengalaman hijrah yang indah. Tapi itu bukanlah segalanya. Pengalaman hanyalah penyemangat, sedangkan pengamalan adalah tujuan. Apa artinya kisah hijrah yang indah bila kita tak kunjung beramal dengannya?

Tentu saya masih jauh dari kesempurnaan. Masih banyak yang harus diperbaiki. Masih banyak kesalahan-kesalahan yang harus dihindari. Jikapun saat ini sudah jauh lebih baik, bagaimana akhirnya nanti?

Bukankah penilaian Allah terhadap seseorang adalah bagaimana dia di akhir? Istiqomahkah dia atau binasa dan larut dengan kisah hijrahnya yang dulu?

يا مقلب القلوب ثبّت قلوبنا على طاعتك

Wahai Allah yang Maha Membolak-balikkan Hati, tetapkanlah hati kami dalam ketaatan kepada-Mu.

Semoga Allah membalas semua kebaikan orang-orang yang berperan dalam proses ini, mulai dari proses hijrah hingga istiqomah hingga akhir hayat. Aamiin

——————————–

Tinggalkan komentar